Jumat, 12 April 2013

Masih Seperti yang Dulu

Sore itu awal 2010, langkah saya pelan menapaki jalanan yang setiap hari saya lewati. Tidak terasa, jalan yang dulu sumpek karena banyak pemukiman kumuh kini berubah. Ruko-ruko berderet, sawah serta..Duh.. bahasa Indonesianya balong apa yah saya lupa? Kini sudah digantikan oleh alfamart dan indomart yang berdiri berdampingan. Lapangan tempat saya bermain bola pun berganti menjadi sebuah institusi pendidikan agama Islam yang katanya dibiayai Arab Saudi.

Pandangan saya menyapu setiap sudut jalan, hingga terhenti di satu spot. Di samping kantor rw 06, tertangkap oleh mata saya yang rabun sesosok makhluk ciptaan Tuhan yang sepertinya sudah tua.
Ia adalah mang... Saya tidak tau namanya :( , tukang cilok keliling, langganan saya waktu SD. Ia biasanya jualan tiap sore, berkeliling perumahan dengan sepeda ontel yang bagian belakangnya dipasangi benda yang saya juga tidak tahu namanya, tapi yang jelas untuk menyimpan cilok-ciloknya agar tetap hangat.
Maka sore itu, saya putuskan untuk jajan cilok dulu sebelum pulang.
'mang, cilok 3 rebu-eun' kata saya sambil tersenyum manis.
'eh siap cep, kamana wae jarang keliatan' katanya pada saya. Si mang cilok ingat pada saya, saya pun ingat sama mang cilok. Tapi kami berdua tak tau nama masing-masing :(
'ada mang, biasa we gini'
'habis dari mana?' kata si mang cilok kepo.
'sekolah mang' jawab saya
'oh, kelas sabaraha ayeuna?'
..........
*Tahun 2010 itu saya sudah ngajar di sekolah islam elit*
Lalu saya jawab pertanyaan tadi dengan 'hehehehe'
Saya pun mengambil bungkusan cilok itu dan segera pulang. Ternyata setelah bertahun-tahun lamanya, cilok nya masih sama, rasa, bentuk nya yang masih bulat, serta tingkat kekenyalannya sama. Masih seperti yang dulu. Hanya yang berbeda si mang ciloknya sudah bertambah tua.
***
April 2013 langkah saya masih sama, pelan. Ruko di daerah pemukiman saya makin banyak. Alfamart dan Indomart yang berdampingan masih berdiri, damai tidak gontok-gontokan, tidak seperti rumah ibadah yang sepertinya sulit untuk berdampingan. Di tengahnya kini dipisahkan oleh ruko premier dvd, tempat favorit saya dimana saya dan pelanggan lainnya selalu mendapat bonus satu dvd setiap membeli 5 dvd kw yg dijual disana.
Pandangan saya terhenti kembali,penyebabnya sama seperti 3 tahun lalu, sepeda ontel mang cilok. Saya pun menghampiri mang cilok yang sedang duduk melamun, tidak ada pembeli. Ada satu hal yang berbeda di pertemuan kami sore itu. Mang cilok sudah tidak menganggap saya siswa lagi, dia sudah menanyakan pekerjaan saya. Mungkin karena saya sudah terlihat semakin dewasa :)).  Dan saya pun kini sudah tau namanya, mang Ade. Mang Ade tinggal di blok desa beberapa ratus meter dari rumah saya. Ia sudah berjualan cilok nyaris 20 tahun lamanya, 20 tahun...! dan masih menggunakan sepeda, masih berkeliling, masih mendapat penghasilan rata-rata yang hampir sama... Yang berubah hanya raganya yang semakin menua, rambutnya yang memutih, serta usianya yang semakin banyak, waktu penyebabnya. Tapi pekerjaannya tetap sama, rutinitasnya sama. Saya yakin menjadi penjual cilok selama 2 dekade bukanlah passionnya, namun sebuah pilihan, keterpaksaan barangkali...
Pertanyaan saya, jika aku menjadi... Sanggupkah?
****
Semoga Yang Maha Kuasa menaikan derajat hamba Nya yang mau berusaha, dan menjauhkan dari keluh kesah serta kufur nikmat...

Sabtu, 26 Januari 2013

Ketika Cinta Ditolak (Inspired by a True Event)

Gambar disamping ini saya dapat beberapa hari lalu dari postingan seseorang di twitter. Sepertinya bilang wow sambil koprol, terus nyelem ke laut bareng ikan kembung, dan maen pingpong sama spongebob di bikini bottom pun masih kurang cukup untuk mengungkapkan ekspresi saya melihat gambar ini. (Gambar dan berita dimuat di Harian Rakyat Bengkulu)

***
Junaedi (nama samaran) bocah kelas 3 SDN Taramandi yang aktif di kelas, mantan wakil KM kelas 2 B, serta selalu mendapat nilai bagus dalam mata pelajaran PLH, kini berubah. Semenjak kedatangan Tasya (nama samaran juga) anak pindahan berdarah campuran Jerman-Tasikmalaya ke sekolahnya ini, Junaedi menjadi aneh. Ia jadi suka senyum-senyum sendiri, susah konsentrasi, susah tidur, susah namatin Angry Bird Season ga pake cheat, susah boker sambil kayang, pokonya susah aja hidupnya.

Senin, 14 Januari 2013

Secret 'Monkey Love' Admirer


‘Sampai sini ada yang ditanyakan?’ kata saya mengakhiri pelajaran.

‘enggak’ jawab mereka dengan tatapan ‘udah deh buruan pengen pulang nih’.  Ada tiga kemungkinan ketika siswa menjawab pertanyaan seperti diatas. Pertama, mereka sudah paham. Dua, tidak ngerti sama sekali. Atau tiga, pengen cepet udahan, alias bosen.

Tiba-tiba seorang anak cowok nyeletuk, ‘pak aku masih bingung!’ katanya

‘Bingung kenapa?’

‘Tapi bukan soal pelajaran’

‘Terus?’

‘Soal surat pak’ katanya lagi

‘Surat apa?’

Selasa, 01 Januari 2013

Naskah Drama Perpisahan


Perpisahan angkatan 6 MI At-Taqwa kemarin itu spesial. Bukan karena anak-anak nya sih, mereka mah biasa aja..pffttt... Ga sih kalian juga spesial, kaliaaan luaar biasaaa..! apa sih..
Momen perpisahan memang selalu spesial, apalagi perpisahan dengan orang-orang yang tanpa kita sadari berarti banyak buat kita. Mungkin ketika orang tersebut ada dekat kita sering bikin kita jengkel, tapi ketika tidak ada justru kita kangen mampus, well itulah yang namanya rasa sayang. Momen perpisahan itu pun jadi lebih spesial buat saya, karena itu akan jadi acara perpisahan kelulusan yang terakhir buat saya. Tapi saya ga mau sedih-sedihan, saya mau nikmatin momen tersebut dengan tawa bahagia. Jadi ketika ketua panitia perpisahan yang merangkap guru Bahasa Indonesia serta tebengan tetap saya kala pulang mengajar nanya "punya cerita ga buat drama perpisahan?" saya langsung jawab "ada" padahal ga punya -____-
Simple, saya pengen ngasih "sesuatu" buat mereka. Lantas malem saya ngetik, dan hanya dalam 1 jam naskah dramanya jadi. Waktu itu bingung mau ngasih judul apa, akhirnya selesai ga selesai saya kumpulkan ke guru Bahasa Indonesia itu. Suprise, ternyata kolaborasi antara guru Bahasa Indonesia sebagai sutradara dan guru Bahasa Arab sebagai sound engineer bisa bikin naskah "sederhana" yang dibuat oleh guru PKn ini jadi tontonan yang menarik diacara tersebut, people laugh and mission complete. Ini dia naskahnya... :D

Tinggalkan!

Pernah kah kalian merasa stuck, atau jalan ditempat? Jika jawabannya tidak maka syukur alhamdulillah. Namun jika iya, tak usah khawatir, kalian tidak sendirian :)
Beberapa pekan lalu saya terlibat obrolan dengan beberapa teman, uniknya mereka mengambil kesimpulan kalau selama ini tidak ada perkembangan berarti dalam hidupnya, stuck, stagnan. Apa yang membuat mereka berpikir seperti itu pastilah kondisi diluar dirinya, lingkungannya. Kita sering kali melihat orang lain berkembang pesat. Pindah ke rumah baru, kendaraan baru, kenaikan pangkat, apapun itulah yang dilihat sebagai standar kesuksesan seseorang secara sosial.

Saya sih berusaha mensyukuri dengan kondisi saya sekarang. Hingga saya sadar bahwa saya pun merasakan hal yang sama dengan teman-teman saya tadi. "you're 26 and you still live with your parents, what a loser!" itu adalah potongan dialog dalam film yang saya tonton kemarin, beberapa jam sebelum pergantian tahun. Dari situ saya menyadari bahwa saya pun stuck, stagnan, bahkan mungkin loser.

Bagi saya kesuksesan sama dengan kemandirian, berdiri diatas kaki sendiri. Sebagian orang berpendapat kemandirian materi lah yang utama. Well setuju tidak setuju untuk itu.
Bagi mereka pengagum Yusuf Mansyur atau mungkin ustad Solmed akan berpikiran, "dangkal sekali jika kesuksesan hanya dinilai dari materi". Iya setuju saya di mata Tuhan manusia tidak dinilai dari itu semua, tapi bagaimana dengan mata manusia? Otherwise we do live in a material world don't we?

Saya pikir kita semua juga tahu apa yang harus kita lakukan untuk ke luar dari kondisi ini. Ya, berhenti berkeluh kesah, berhenti mengutuki diri sendiri, dan mulai melangkah lebih cepat. Susah, tapi pasti bisa. Wise word said "It's much better to light a candle than cursing the darkness".
So now let's leave all the 'galauness' in 2012 and welcoming 2013 with hope, faith, and a genuine smile.