Selasa, 01 Januari 2013

Naskah Drama Perpisahan


Perpisahan angkatan 6 MI At-Taqwa kemarin itu spesial. Bukan karena anak-anak nya sih, mereka mah biasa aja..pffttt... Ga sih kalian juga spesial, kaliaaan luaar biasaaa..! apa sih..
Momen perpisahan memang selalu spesial, apalagi perpisahan dengan orang-orang yang tanpa kita sadari berarti banyak buat kita. Mungkin ketika orang tersebut ada dekat kita sering bikin kita jengkel, tapi ketika tidak ada justru kita kangen mampus, well itulah yang namanya rasa sayang. Momen perpisahan itu pun jadi lebih spesial buat saya, karena itu akan jadi acara perpisahan kelulusan yang terakhir buat saya. Tapi saya ga mau sedih-sedihan, saya mau nikmatin momen tersebut dengan tawa bahagia. Jadi ketika ketua panitia perpisahan yang merangkap guru Bahasa Indonesia serta tebengan tetap saya kala pulang mengajar nanya "punya cerita ga buat drama perpisahan?" saya langsung jawab "ada" padahal ga punya -____-
Simple, saya pengen ngasih "sesuatu" buat mereka. Lantas malem saya ngetik, dan hanya dalam 1 jam naskah dramanya jadi. Waktu itu bingung mau ngasih judul apa, akhirnya selesai ga selesai saya kumpulkan ke guru Bahasa Indonesia itu. Suprise, ternyata kolaborasi antara guru Bahasa Indonesia sebagai sutradara dan guru Bahasa Arab sebagai sound engineer bisa bikin naskah "sederhana" yang dibuat oleh guru PKn ini jadi tontonan yang menarik diacara tersebut, people laugh and mission complete. Ini dia naskahnya... :D

Tinggalkan!

Pernah kah kalian merasa stuck, atau jalan ditempat? Jika jawabannya tidak maka syukur alhamdulillah. Namun jika iya, tak usah khawatir, kalian tidak sendirian :)
Beberapa pekan lalu saya terlibat obrolan dengan beberapa teman, uniknya mereka mengambil kesimpulan kalau selama ini tidak ada perkembangan berarti dalam hidupnya, stuck, stagnan. Apa yang membuat mereka berpikir seperti itu pastilah kondisi diluar dirinya, lingkungannya. Kita sering kali melihat orang lain berkembang pesat. Pindah ke rumah baru, kendaraan baru, kenaikan pangkat, apapun itulah yang dilihat sebagai standar kesuksesan seseorang secara sosial.

Saya sih berusaha mensyukuri dengan kondisi saya sekarang. Hingga saya sadar bahwa saya pun merasakan hal yang sama dengan teman-teman saya tadi. "you're 26 and you still live with your parents, what a loser!" itu adalah potongan dialog dalam film yang saya tonton kemarin, beberapa jam sebelum pergantian tahun. Dari situ saya menyadari bahwa saya pun stuck, stagnan, bahkan mungkin loser.

Bagi saya kesuksesan sama dengan kemandirian, berdiri diatas kaki sendiri. Sebagian orang berpendapat kemandirian materi lah yang utama. Well setuju tidak setuju untuk itu.
Bagi mereka pengagum Yusuf Mansyur atau mungkin ustad Solmed akan berpikiran, "dangkal sekali jika kesuksesan hanya dinilai dari materi". Iya setuju saya di mata Tuhan manusia tidak dinilai dari itu semua, tapi bagaimana dengan mata manusia? Otherwise we do live in a material world don't we?

Saya pikir kita semua juga tahu apa yang harus kita lakukan untuk ke luar dari kondisi ini. Ya, berhenti berkeluh kesah, berhenti mengutuki diri sendiri, dan mulai melangkah lebih cepat. Susah, tapi pasti bisa. Wise word said "It's much better to light a candle than cursing the darkness".
So now let's leave all the 'galauness' in 2012 and welcoming 2013 with hope, faith, and a genuine smile.

Minggu, 25 November 2012

PeEr

Tadi siang saya ga sengaja nemu film Perancis judulnya Monsieur Lazhar. Filmnya tentang seorang imigran Aljazair yang menjadi guru pengganti di sebuah SD.
Bukan karena tanggal 25 itu hari guru nasional, terus saya sok nonton film tentang guru, enggak, ini kebetulan aja.
Jadi gini ceritanya. Sebuah SD digemparkan oleh kematian tragis gurunya yang gantung diri di kelas. Kepala sekolah yang panik, memutuskan untuk merekrut Bachir Lazhar seorang imigran Aljazair yang mengaku punya pengalaman mengajar selama 19 tahun di negara asalnya.
Bachir mengalami hari-hari yang sulit. Dia menghadapi anak-anak yang shock atas kematian tragis guru favoritnya. Selain itu ia pun menyembunyikan masalah pribadinya yang pelik.

Minggu, 26 Agustus 2012

Teguran

Bulan puasa sudah lewat, lebaran pun sama. Lewat seminggu yang lalu. Puasa tahun ini pada dasarnya sama seperti tahun-tahun yang lalu, sama-sama nahan lapar, haus, serta nafsu. Yang membedakan hanya tidak adanya buka bersama dengan teman se kantor. Maklum saya baru saja move on dari kantor sebelumnya. Faktor pembeda lainnya adalah THR, yaudah skip, no comment.
Nah, yang berkesan justru lebarannya. Hanya kesannya kurang mengenakan. Bukan!, bukan karena THR tadi yang sengaja saya ganti kepanjangannya jadi Tak Harus Risau itu, tapi ada hal lain yang lebih meaningfull. Jadi begini ceritanya....

Janji

"oh janji ku tak kan ku selamanya | oh janji ku kan ku ikuti kata hti ku"

Penggalan lirik lagu 'janji' nya Gigi tiba-tiba melompat di kepala saya ketika baru mau membuat postingan ini.
Janji, begitu mudah nya kita, maaf, saya mengucapnya, begitu mudah pula saya melanggarnya. Terutama janji-janji yang saya buat untuk diri sendiri. Dulu saya berjanji pada diri sendiri untuk berlatih menulis dengan cara minimal membuat postingan blog sebulan sekali, dan saya langgar itu. Kalau tidak percaya cek tanggal postingan sebelum ini gih!.

Saya juga pernah berjanji untuk minimal membaca satu buku setiap bulannya. Apa yang terjadi? justru saya malah datang ke bioskop nyaris sebulan 3 x dibanding dengan ke grame.. ya itu lah, toko buku.